<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Prwnt&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://prwnt.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://prwnt.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Apr 2010 07:56:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='prwnt.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Prwnt&#039;s Blog</title>
		<link>http://prwnt.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://prwnt.wordpress.com/osd.xml" title="Prwnt&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://prwnt.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KONTRAVERSI TENTANG HUKUM MUSIK DALAM ISLAM</title>
		<link>http://prwnt.wordpress.com/2010/04/21/kontraversi-tentang-hukum-musik-dalam-islam/</link>
		<comments>http://prwnt.wordpress.com/2010/04/21/kontraversi-tentang-hukum-musik-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 07:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prwnt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prwnt.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Banyak kalangan yang mempertanyakan tantang hukum nyanyian dalam islam. Ada nash yang mengharamkan ada yang menghalalkan, sehingga dapat menimbulkan keraguan tentang kepastian hukumnya. Pertanyaan tersebut memang perlu dijawab untuk menentukan sikap dan pendirian. Hadits yang paling shahih yang mengharamkan nyanyian adalah Hadits Imam Bukhari dari Abd-ur-Rahman bin Ghunam yang mendengar dari Abu Malik Al-&#8217;Asya&#8217;ari bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prwnt.wordpress.com&amp;blog=13128858&amp;post=3&amp;subd=prwnt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak kalangan yang mempertanyakan tantang hukum nyanyian dalam islam. Ada nash yang mengharamkan ada yang menghalalkan, sehingga dapat menimbulkan keraguan tentang kepastian hukumnya.</p>
<p>Pertanyaan  tersebut memang perlu dijawab untuk menentukan sikap dan pendirian. Hadits yang  paling shahih yang mengharamkan nyanyian adalah Hadits Imam Bukhari dari  Abd-ur-Rahman bin Ghunam yang mendengar dari Abu Malik Al-&#8217;Asya&#8217;ari bahwa  Rasulullah s.a.w. bersabda:</p>
<p dir="rtl">(لَيَكُونَنَّ  مِنْ أُمَّتِي قَوْمٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَ الْحَرِيرِ وَ الْخَمْرَ وَ  الْمَعَازِفَ)</p>
<p>&#8220;Sungguh akan  terjadi pada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan perzinaan, (memakai) kain  sutera, arak, dan alat-alat musik&#8230;&#8221; (HR. IMAM BUKHARI, No. Hadits 5590).</p>
<p>Juga Hadits Imam  Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al-Bukhari dalam kitab AT-TARIKH-UL-KABIR.dari Malik  bin Abi Maryam yang meriwayatkan dari Abd-ur-Rahman bin Ghunam dari Abi Malik  Al-&#8217;Asy&#8217;ari dari Rasulullah s.a.w. (Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani, FATH-UL-BARI,  Jilid X, hlm. 55):</p>
<p dir="rtl">(لَيَشْرَبَنَّ أُنَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا  تَغْدُو عَلَيْهِمُ الْقِيَانُ وَ تَرُوحُ عَلَيْهِمُ الْمَعَازِفُ)</p>
<p>&#8220;Sekelompok  umatku akan minum khamr (minuman keras) dan menyebutkannya dengan nama (baru)  selain nama khamr. Para penyanyi wanita akan mendatangi mereka, lalu para pemain  musik akan melakukan pertunjukan di hadapan mereka.&#8221;</p>
<h2>TIDAK ADA DUA  BENTUK HADITS KONTROVERSIAL.</h2>
<p>Memperhatikan  nash-nash di atas maupun nash lainnya yang mengharamkan nyanyian menyebabkan  seseorang tiba kepada sebuah kesimpulan bahwa ada kontroversial antara nash-nash  yang membolehkan dengan nash-nash yang mengharamkan nyanyian. Karena itulah kita  perlu kembali kepada suatu kaidah ushul fiqih yang sudah masyhur di kalangan  ulama, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Syafi&#8217;i dalam kasus seperti ini.  (Lihat Imam Asy-Syaukani, IRSYAD-UL-FUHUL ILA TAHQIQ-IL-HAQ MIN-ILM-IL-USHUL,  hlm. 375; Imam Syafi&#8217;i, AR-RISALAH, hlm. 352, No. Hadits 925).</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i  berpendapat, tidak dapat dibenarkan ada dua Hadits shahih saling kontroversial  yang salah satunya tidak sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Hadits lainnya,  bukan karena adanya kekhususan-keumuman lafazhnya, karena ada sesuatu yang tidak  jelas maksudnya (mujmal), atau adanya penjelasan (dalam nash lain). Tetapi sifat  kontroversial itu hanya boleh terjadi dalam hal penasakhan (penghapusan hukum  lama dengan yang baru), walaupun seorang mujtahid tidak menemukan nasakh  tersebut.&#8221;</p>
<p>Imam  Al-Khaththabi juga mengemukakan hal serupa, (Imam Al-Khaththabi,  MA&#8217;ALIM-US-SUNANI, Jilid III, hlm.80). Katanya: &#8220;Apabila ada dua Hadits dari  segi zhahir lafaznya berbeda, dapat diperkuat oleh salah satu di antara keduanya  setelah ditentukan nilainya masing-masing Hadits tersebut. Setelah itu, maka  tidak boleh ditolak sama sekali atau dianggap antara keduanya saling  bertentangan. Tetapi keduanya dipakai dan ditempatkan pada posisinya  masing-masing. Begitulah sikap para ulama terhadap banyak Hadits.&#8221;</p>
<p>Berdasarkan  keterangan di atas maka sikap yang lebih tepat adalah mengambil kedua Hadits  tersebut yang kelihatannya saling bertentangan daripada menolak salah satu di  antaranya. Bahkan sesungguhnya antara kedua Hadits tersebut dapat dikatakan  tidak berlawanan satu dengan lainnya sebab setiap Hadits telah disampaikan pada  suatu peristiwa atau di tempat-tempat yang saling berbeda, walaupun obyek  pembahasannya sama.</p>
<p>1.   BAGAIMANA  MENENTUKAN NYANYIAN HALAL DAN HARAM.</p>
<p>Hadits yang  melarang nyanyian berkaitan dengan nyanyian secara umum. Sedangkan Hadits-Hadits  yang membolehkannya bersifat khusus, yakni terbatas pada tempat, kondisi, atau  peristiwa tertantu. Misalnya, hari raya, pesta pernikahan, pulang kampungnya  seseorang ke negeri kelahirannya, dan sebagainya.Kekhususan tersebut ditunjukkan  oleh sabda Rasulullah s.a.w. dalam Hadits-Hadits yang membolehkan nyanyian,  antara lain sikap beliau terhadap Abu Bakar yang ketika itu menegur dua wanita  yang sedang bernyanyi di rumah Rasulullah s.a.w. Nabi s.a.w. berkata kepada Abu  Bakar:</p>
<p>&#8220;Biarkanlah  mereka (melanjutkan nyanyiannya), wahai Abu Bakar, sebab hari ini adalah hari  raya.&#8221; (HR. MUSLIM, Hadits no. 17; dan BUKHARI, Hadits no. 987).</p>
<p>Juga sabda beliau  kepada &#8216;Aisyah r.a. yang ketika itu menikahkan seorang perempuan kerabatnya,  dengan kata-kata (Lihat Imam Asy-Syaukani, NAIL-UL-AUTHAR, Jilid VIII, hlm.  119):</p>
<p>&#8220;Apakah engkau  sudah membawa seseorang bersamanya untuk bernyanyi?&#8230;.(HR. IBNU MAJAH, Hadits  no. 1900).</p>
<p>Begitu pula  halnya dengan sabda Rasulullah s.a.w. kepada seorang wanita yang telah bernazar  untuk memukul rebana di hadapan beliau sambil bernyanyi. Rasulullah s.a.w.  berkata wanita itu:</p>
<p>&#8220;Jika engkau  sudah menetapkan nazarmu, maka lakukanlah (sesuai dengan nazar itu).&#8221; (HR.  AHMAD, TIRMIDZI, IBNU HIBBAN, dan AL-BAIHAQI).</p>
<p>Semua Hadits  tersebut di atas mengkhususkan umumnya nash-nash yang mengharamkan nyanyian  serta membatasinya, yakni membolehkannya dalam kondisi dan keadaan tertentu.  Kekhususan ini menunjukkan posisi hukumnya, yaitu makruh melakukan nyanyian  apabila dilakukan secara terus-menerus. Syaratnya adalah tidak bercampur-baur  dengan bentuk kemungkaran. Apabila telah bercampur maka tentu hukumnya haram.</p>
<p>Adapun Hadits  yang mengharamkan nyanyian pada awal bab ini adalah sabda Rasulullah s.a.w.:</p>
<p>&#8220;Sungguh akan  terjadi pada suatu kaum dari umatku yang menghalalkan perzinaan, (memakai) kain  sutera (pada kaum lelaki), arak, dan alat-alat musik&#8230;.&#8221; (HR. IMAM BUKHARI).</p>
<p>Dalam lafaz yang  lain disebutkan tambahan   (وَ الْقِيَانَ) &#8220;para penyanyi  wanita&#8221;. Riwayat ini tercantum dalam kitab Imam Bukhari AT-TARIKH-UL-KABIR.</p>
<p>Hadits tersebut  dapat ditafsirkan oleh Hadits lainnya yang menjelaskan bagaimana mereka akan  menghalalkan minuman khamr, alat-alat musik, dan para penyanyi, yaitu sabda  Rusullah s.a.w.(Lihat Imam Asy-Syaukani, NAIL-UL-AUTHAR, Jilid VIII, hlm. 106):</p>
<p dir="rtl">(لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا  يُعْزَفُ عَلى رُؤُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَ الْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللهُ  بِهِمُ الأَرْضَ وَ يَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَ الْخَنَازِيرَ)</p>
<p>&#8220;Sekelompok dari  umatku akan minum khamr dan menyebutnya dengan nama (baru) selain nama khamr.  Para pemusik bersama penyanyi wanita akan melakukan pertunjukan di hadapan  mereka. Kemudian mereka akan dilenyapkan ke dalam tanah dan dijadikan sebagian  dari mereka dalam bentuk kera dan babi.&#8221; (HR. IBNU MAJAH, ABU DAWUD, dan  dishahihkan oleh IBNU HIBBAN).</p>
<p>Dari seluruh  Hadits di atas yang membolehkan dan mengharamkan nyanyian dapat diambil suatu  pengertian bahwa nyanyian itu hukumnya mubah, asal sya&#8217;irnya mencantumkan hanya  makna-makna yang mubah saja. Kecuali apabila disertai dengan hal-hal lain yang  haram, misalnya ada khamr atau bercampurnya lelaki dan perempuan.</p>
<p>Dengan demikian  nash Hadits tersebut di atas telah menjelaskan bentuk permainan alat musik dan  nyanyian yang dicela oleh syara&#8217; yang disebutkan di dalam Hadits yang  mengharamkan nyanyian. Bila ia melanggar ketentuan syara&#8217; (memainkan musik dan  bernyanyi dengan cara ini), maka haram hukumnya karena disertai dengan hal-hal  yang haram. Dalam hal ini kita dilarang mendengarkannya atau berada di  tempat-tempat pertunjukkan seperti itu, misalnya klub malam, diskotik, dan  sejenisnya. Itulah maksud sabda Rasulullah s.a.w.:</p>
<p>Sekelompok dari  umatku akan menghalalkan permainan alat-alat musik dan penyanyi wanita (bersama  mereka).&#8221;</p>
<p>Dengan keterangan  di atas maka tidak bisa kita menyamaratakan semua nyanyian itu haram atau mubah  karena dalil-dalil syara&#8217; telah membolehkan nyanyian dalam pesta pernikahan atau  pada hari raya. Dalil-dalil tersebut mengkhususkan umumnya nash-nash yang  mengharamkan nyanyian. Sedangkan yang mengharamkannya telah membatasi  keharamannya dalam keadaan dan kondisi tertentu. Dari sini dapat ditarik dua  macam hal:</p>
<p>1. NYANYIAN YANG  HARAM.</p>
<p>Jenis nyanyian  ini terbatas pada nyanyian yang disertai dengan perbuatan haram atau mungkar,  semisal minuman khamr, menampilkan aurat wanita, atau nyanyiannya berisi sya&#8217;ir  yang bertentangan dengan aqidah atau melanggar etika kesopanan Islam. Contoh  untuk ini adalah sya&#8217;ir lagu kerohanian agama selain Islam, lagu asmara, lagu  rintihan cinta yang membangkitkan birahi, kotor, dan porno. Tak peduli apakah  nyanyian itu berbentuk vokal atau diiringi dengan musik, baik yang dinyanyikan  oleh lelaki maupun wanita.</p>
<p>2.NYANYIAN YANG  MUBAH.</p>
<p>Kriteria jenis  nyanyian ini adalah tidak boleh bercampur dengan sesuatu yang telah disebutkan  dalam jenis nyanyian yang haram di atas. Ia tidak disertai dengan kata-kata yang  memuji kecantikan wanita, tidak disertai mabuk-mabukan, tidak ada kata-kata yang  mengajak pacaran, main cinta, atau senandung asmara. Tidak juga diadakan di  tempat-tempat maksiat, misalnya klub malam, diskotik, dan sejenisnya, yang di  tempat itu wanita dan lelaki bebas bercampur-baur menari bersama. Kecuali bila  diadakan di rumah-rumah dan semua orang yang terlibat baik maupun wanitanya  adalah dari keluarga dan kerabat sendiri (muhrim bagi yang lain). Misalnya  seorang ibu bernyanyi untuk anaknya di depan suaminya; seorang bibi bernyanyi di  depan keponakannya; seorang perempuan bernyanyi untuk saudaranya; seorang istri  bernyanyi untuk suaminya dan sebaliknya, baik itu hanya lagu semata (vokal)  maupun diiringi dengan instrumen musik.</p>
<p>Status nyanyian  seperti di atas sama halnya dengan nyanyian yang membangkitkan semangat  perjuangan (jihad), atau nyanyian yang sya&#8217;irnya menunjukkan ketinggian ilmu  para ulama dan keistimewaan mereka, atau juga nyanyian yang memuji  saudara-saudara maupun sesama teman dengan cara menonjolkan sifat-sifat mulia  yang mereka miliki, atau juga nyanyian yang melunakkan hati kaum Muslimin  terhadap agama, atau yang mendorong mereka untuk berpegang teguh kepada  ajaran-ajaran Islam dan bahaya yang akan menimpa orang yang melanggarnya. Begitu  pula macam-macam nyanyian yang membicarakan tentang keindahan alam atau yang  membicarakan tentang persoalan ilmu (pandai) menunggang kuda, dan sebagainya.</p>
<p>2. BAGAIMANA  SESUNGGUHNYA HUKUM MENDENGARKAN NYANYIAN.</p>
<p>Di atas telah  dijelaskan status hukum nyanyian dan menyanyikannya. Adapun hukum mendengarkan  nyanyian yang mubah maupun yang haram, jawabnya wallahu a&#8217;lam!</p>
<p>Mendengarkan  sesuatu hukumnya mubah bila orang tersebut hanya sekadar mendengarkan. Tetapi  bila ia ikut duduk di tempat-tempat hiburan sambil mendengarkan suara penyanyi  lelaki maupun wanita, maka mendengar dalam keadaan demikian hukumnya juga haram  karena kita telah dilarang duduk bersama orang-orang yang melakukan maksiat. Ini  sesuai dengan firman Allah s.w.t.:</p>
<p dir="rtl">(فَلاَ تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ (إِنَّكُمْ إِذًا  مِثْلُهُمْ) (النساء: 140)</p>
<p>&#8220;Maka janganlah  kamu duduk bersama mereka sampai mereka beralih kepada pembicaraan yang lain.  (Karena sesungguhnya kalau kamu berbuat demikian, tentulah kamu serupa dengan  mereka)&#8230;.&#8221; (4:140).</p>
<p dir="rtl">(فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ) (الأنعَام: 68)</p>
<p>&#8220;&#8230;.maka  janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah (mereka) diberi  peringatan.&#8221; (6:68).</p>
<p>Imam Al-Qurthubi  dalam menafsirkan surat An-Nisa 140 menjelaskan (Lihat TAFSIR AL-QURTHUBI, Jilid  V, hlm. 418) bahwa ayat tersebut menunjukan wajibnya menjauhi orang-orang yang  melakukan maksiat apabila mereka melakukan suatu kemungkaran. Oleh karena itu,  setiap orang yang duduk di tempat maksiat dan tidak mengingkari (mengutuk dan  mencegahnya), maka ia telah ikut serta bersama mereka dan akan memikul dusa yang  sama. Itulah sebabnya seseorang harus mengingkari perbuatan maksiat itu bila  mereka membicarakan atau melakukannya. Tetapi bila ia tidak mampu mencegah  perbuatan mereka, maka ia harus segera meninggalkan tempat tersebut agar tidak  tergolong ke dalam golongan yangdisebutkan pada ayat d atas.&#8221;</p>
<p>Adapun mengenai  surat AL-AN&#8217;AM 68, beliau berkata (Lihat TAFSIR AL-QURTHUBI, Jilid VIII, hlm.  12-13): &#8220;Ayat ini menunjukkan apabila seseorang mengetahui atau menyaksikan  orang lain sedang melakukan suatu kemungkaran, maka hendaklah ia menjauhinya  sekaligus menolaknya dan tidak ingin mendatanginya lagi.&#8221;</p>
<p>Berkata pula  Ibn-ul-&#8217;Arabi: &#8220;Ini merupakan dalil bahwa hidup bersama orang-orang yang  mengerjakan dosa besar hukumnya tidak boleh.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian,  seseorang yang berada atau duduk di tempat-tempat hiburan untuk mendengarkan  nyanyian berarti mereka telah mengakui kemungkaran atau membiarkannya. Inilah  jenis mendengar yang diharamkan syara&#8217;</p>
<p>Adapun nyanyian  yang boleh (mubah) beserta syarat-syarat yang harus dipenuhi dan telah  disebutkan di atas berbeda hukumnya. Kita boleh duduk di tempat-tempat  pertunjukan (misalnya panggung-panggung terbuka) untuk mendengarkan nyanyian  yang mendorong umat untuk berjihad fisabilillah, memupuk perasaan halus kaum  Muslimin agar lebih bertaqwa kepada Allah s.w.t., atau membicarakan sifat-sifat  orang mukmin dan nilai-nilai keislaman. Juga, nyanyian yang menggambarkan  tentang keindahan alam serta nyanyian yang melunakkan hati seseorang fakir  miskin dan yatim, nyanyian memuji kebaktian kepada ibu dan bapak, serta kepada  keluarganya, atau juga nyanyian yang tujuannya mendidik anak-anak dan  sebagainya. Dengan kata lain, nyanyian yang mubah tidak ada kaitannya dengan  persoalan cinta dan asmara, kecuali nyanyian dari suami kepada istri dan  sebaliknya. Ia tidak disampaikan dengan cara mengeluh yang hal tersebut  membangkitkan birahi seksual.</p>
<p>Adapun tentang  masalah sya&#8217;ir nyanyian, maka sya&#8217;ir itu harus sebatas kata-kata yang sopan  santun, bukan kata-kata yang berupa romantisme atau membicarakan kisah-kisah  tentang malam minggu, malam pertama, dan sejenisnya. Dalam hal ini Ibn-ul-&#8217;Arabi  berkata (Lihat Imam Ibn-ul-&#8217;Arabi, AHKAM-UL-QURAN, Jilid III, hlm. 1494): &#8220;Hukum  mendengarkan nyanyian seorang biduanita telah dijelaskan sebelumnya bahwa  seorang lelaki boleh saja mendengarkan nyanyian wanita budaknya. Ini disebabkan  karena tidak satu bagian pun yang haram padanya, baik bagian luar maupun dalam.  Dengan demikian, bagaimana mungkin ia dicegah untuk menikmati suaranya  (nyanyiannya).&#8221;</p>
<p>3.   SUARA  WANITA, AURAT ATAUKAH BUKAN?</p>
<p>Ada yang  mengatakan bahwa yang boleh didengar adalah nyanyian dari lelaki, sedangkan  nyanyian wanita haram untuk didengar. Alasannya, suara wanita itu aurat (hal  yang tidak boleh ditampilkan). Jawabannya wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Walaupun nyanyian  yang memalukan itu haram dikerjakan bila disertai dengan perbuatan haram atau  mungkar namun mendengarkannya tidaklah haram. Keharamannya itu terbatas pada  mendengarkannya secara langsung dari penyanyinya di tempat maksiat, bukan karena  suara penyanyi wanita itu aurat. Keharaman itu terletak pada sikap berdiam diri  terhadap nyanyian yang berisi kata-kata mungkar dan si penyanyi wanita  menampilkan kecantikannya dengan membuka auratnya, misalnya rambut, leher, dada,  betis, paha dan bagian aurat lainnya. Inilah yang diharamkan oleh syara&#8217;, bukan  karena masalah mendengarkan nyanyian wanita itu.</p>
<p>Suara wanita  bukan aurat karena jika disebut demikian, ,mengapa Rasulullah s.a.w. mengijinkan  dua wanita budak bernyanyi di rumahnya? Salain itu, beliau tidak keberatan  berbicara dengan kaum wanita, sebagaimana yang terjadi ketika menerima bai&#8217;at  dari kaum ibu sebelum dan sesudah hijrah. Bahkan beliau pernah mendengar  nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan bernyanyi di  hadapan Rasulullah s.a.w. Semua keterangan tersebut dan keterangan serupa  lainnya menunjukkan bahwa suara wanita bukan aurat.</p>
<p>Selain itu,  syara&#8217; telah memberikan hak dan wewenang kepada kaum wanita untuk melakukan  aktifitas jual beli, berdagang, menyampaikan ceramah atau mengajar, mengaji  Al-Quran di rumah sendiri, membaca kasidah atau sya&#8217;ir, dan sebagainya. Jika  suara mereka dianggap aurat atau haram maka tentu syara&#8217; akan mencegah mereka  melakukan semua aktivitas tersebut. Inilah hujjah yang kuat. Hanya memang syara&#8217;  telah melarang wanita menampilkan perhiasannya dihadapan kaum lelaki yang bukan  muhrimnya, melenggak-lenggok, atau manja dalam berbicara, sebagaimana firman  Allah s.w.t.:</p>
<p dir="rtl">(وَ لاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ  آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ  إِخْوَانِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي  أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ  التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِى الإِرْبَةِ  مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الْطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلى عَوْرَاتِ  النِّسَاءِ) (النور: 31)</p>
<p>&#8220;dan janganlah  menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau  ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera saudara  perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki,  atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita),  atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita&#8230;.&#8221; (24:31).</p>
<p>Syara&#8217; tidak  melarang wanita berbicara dengan pria dengan syarat ia tidak menampilkan  kecantikan atau perhiasannya kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, mendengar  suara wanita tidaklah haram sebab bukan aurat. &#8220;Tidak ada larangan wanita  berbicara dengan kaum lelaki kecuali dengan suara manja, merayu, atau keluhan  yang dapat menimbulkan keinginan kaum lelaki untuk berbuat jahat, serong, dan  perbuatan dosa besar lainnya terhadap wanita tersebut. Hal ini telah ditegaskan  oleh Allah s.w.t. dalam firmanNya:</p>
<p dir="rtl">(فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَ قُلْنَ  قَوْلاً مَعْرُوفًا) (الأحزاب: 32)</p>
<p>&#8220;&#8230;maka,  janganlah kamu tunduk ketika berbicara (dengan manja, merayu, dan sebagainya).  (Sebab), nanti akan timbul keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya  (keinginan nafsu birahinya). Dia ucapkanlah perkataan yang baik (sopan santun).&#8221;  (33:32).</p>
<p>Apabila wanita  sudah melanggar perintah tersebut maka tidak hanya dirinya yang terlibat dalam  perbuatan dosa atau haram, tapi juga setiap orang yang membiarkan hal tersebut  karena mereka tidak menyeru kepada yang ma&#8217;ruf (wajib, sunnah) terhadap wanita  itu, dan tidak pula mencegahnya melakukan yang mungkar (haram).</p>
<p>Rasulullah  s.a.w.bersabda mengenai hal ini: (Lihat SHAHIH MUSLIM, Hadits No. 49,78; SUNAN  ABU DAWUD, Hadits No. 1140; SUNAN TIRMIDZI, Hadits No. 2173; SUNAN AN-NASAI,  Jilid VIII, Hadits 111; dan SUNAN IBNU MAJAH, Hadits No. 4013):</p>
<p dir="rtl">(مَنْ رَأى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ  فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ)</p>
<p>&#8220;Siapa saja di  antara kalian yang melihat adanya kemungkaran maka hendaklah ia ubah dengan  tangannya. Jika ia tidak mampu melakukannya, maka hendaklah dengan lisannya.  Kalau inipun tidak mampu dilakukannya, maka hendaklah dengan menolaknya di dalam  hatinya. Tetapi itulah iman yang selemah-lemahnya.&#8221; (HR. MUSLIM, ABU DAWUD,  TIRMIDZI, AN-NASAI, dan IBNU MAJAH).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prwnt.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prwnt.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prwnt.wordpress.com&amp;blog=13128858&amp;post=3&amp;subd=prwnt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prwnt.wordpress.com/2010/04/21/kontraversi-tentang-hukum-musik-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3a0c6c0f9d2fa8c3b17869b74b1d054?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prwnt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://prwnt.wordpress.com/2010/04/14/hello-world/</link>
		<comments>http://prwnt.wordpress.com/2010/04/14/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 07:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prwnt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prwnt.wordpress.com&amp;blog=13128858&amp;post=1&amp;subd=prwnt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prwnt.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prwnt.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prwnt.wordpress.com&amp;blog=13128858&amp;post=1&amp;subd=prwnt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prwnt.wordpress.com/2010/04/14/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3a0c6c0f9d2fa8c3b17869b74b1d054?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prwnt</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
